Yogyakarta – (03/11) Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Prodi IP Fisipol UMY) mengadakan kuliah praktisi yang mendatangkan salah satu kepala desa di Kabupaten Bantul.

Bertindak sebagai narasumber pada kuliah praktisi kali ini Kepala Desa Sumbermulyo Dra. Ani Widayani, M.I.P mengatakan sangat terhormat dapat berbagi pengalaman dengan Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan UMY.

Kegiatan yang dilaksanakan di Ruang Kelas E1. 002 ini diikuti oleh 40 Mahasiswa Semester 5 Prodi Ilmu Pemerintahan UMY yang mengambil Mata Kuliah Tata kelola Pemerintahan Desa.

Isnaini Muallidin, S.IP., MPA selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Tata Kelola Pemerintahan Desa menuturkan bahwa kuliah praktisi ini merupakan bentuk pembelajaran bagi mahasiswa untuk berhubungan langsung dengan masyarakat khususnya untuk mengetahui bagaimana proses Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) dengan melibatkan masyarakat.

Sementara itu, Ani menyebutkan semenjak adanya Dana Desa, membuat masyarakat merasa terketuk hatinya untuk ikut serta dalam mengawal penggunaannya. “Masyarakat pada umumnya semenjak adanya Dana Desa menjadi lebih kritis dengan program-program yang dicanangkan oleh Pemerintah Desa. Hal itu dikarenakan masyarakat di Desa Sumbermulyo memang sangat peduli dengan kemajuan serta kesejahteraan desa”, ujar Kepala Desa Sumbermulyo itu.

Namun Ani menyebutkan bahwa animo masyarakat terhadap partisipasi yang tinggi dalam Musrenbangdes menjadi bumerang yang sampai saat ini sulit untuk dicari jalan keluarnya. “Banyak program yang diusulkan oleh masyarakat, namun pada kenyataanya program-program usulan tersebut tidak dapat terealisasi semuanya karena kita memiliki prioritas dalam penggunaan Dana Desa tersebut” imbuhnya.

Menutup kegiatan tersebut, Ani menyebutkan bahwa perlu adanya keseimbangan antara teori yang didapatkan di dalam kelas dengan praktek yang terjadi di lapangan. “Saya rasa perlu keseimbangan antara teori dan praktek, karena ilmu yang didapatkan di dalam kelas perlu dilengkapi dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Sejatinya banyak praktek di lapangan yang tidak semulus teori, intinya teori dengan praktek itu harus seimbang” ujar Kepala Desa Sumbermulyo itu. (Andre).